Siti Fatimah

Alumnus PPS UNNES bekerja di SMP 2 Kudus sejak tahun 1995 Mata Pelajaran IPA...

Selengkapnya

Asa itu Masih Ada (1)

Cerita ini diilhami dari kisah nyata seorang gadis yang bernama Riska. Dia adalah seorang gadis desa yang cantik, cerdas, kulitnya putih, tinggi badannya hampir 170 cm, rambutnya panjang terurai ke pundak, hidungnya mancung. Sungguh dia gadis yang sempurna. Banyak temannya yang ingin menjadikan dia pasangan hidupnya. Tapi dia selalu menolak lamaran para pemuda. Bukannya dia tidak suka menikah, tapi dia ingin melanjutkan sekolah lagi. Dia tidak ingin seperti ibunya yang hanya tamat sekolah dasar dan ayahnya juga hanya sampai di SMA. Saat ini Rizka sudah kuliah semester dua. Kedua orang tuanya sangat bangga pada Rizka, karena dia sangat pintar dan mandiri.

Saat memasuki ujian semester kedua Riska mendapatkan ujian yang sangat berat. Ayahnya jatuh sakit. Ibunya memberi tahu dia lewat telepon " Nduk, bapakmu sakit. Kamu yang sregep belajar, dan doakan biar bapak cepat sembuh ya Nak. Ibu di sini juga selalu berdoa semoga Allah memberikan kemudahan kamu menempuh ujian."

"Ya bu. Pasti saya akan selalu mendoakan bapak dan ibu agar selalu diberi kesehatan. Bapak sakit apa Bu? Tanya Riska.

" Sakit telinga Nduk. Di liang telinga ada benjolan, Kemarin diperiksakan di Rumah Sakit, malah disuruh operasi. Dokter juga belum tahu pastinya, penyakit apa yang diderita Bapakmu. Doakan saja ya Nduk semoga bukan apa-apa benjolan di telinga Bapakmu. Kalau bisa Minggu depan kamu pulang, karena Bapakmu mau dioperasi, diambil benjolannya." Jelas Ibunya sambil terisak-isak. Tak terasa air mata Riska pun ikut mengalir ketika menerima telepon dari Ibunya.

" Ya, Bu. Insyaallah nanti saya akan pulang, mendampingi bapak saat operasi." Jawab Riska sambil mengusap air mata.

Seminggu pun sudah berlalu.Ujian semester juga sudah selesai, tetapi Riska masih selalu memikirkan tentang penyakit Bapaknya. "Besok Bapak operasi, aku harus segera pulang kampung." Gumamnya dalam hati sambil membereskan kamarnya. "Nina, tolong antar aku ke terminal ya. Aku mau pulang kampung jenguk Bapak." Pinta Riska pada teman satu kamarnya. "Emang kamu mau berapa lama di Kampung Ris?" Tanya Nina. " Paling tidak sampai Bapak sembuh Nin. Tolong antar aku sekarang ya." Ucap Riska menegaskan. "Oke. Pastilah kuantar. Kamu kan solmetku. Ayo naik. Jangan lupa pakai helm, entar kena tilang." Jawab Nina sambil bergurau.

Rumah Riska lumayan jauh. Paling tidak butuh waktu 6 jam naik bis, kemudian naik ojek sekitar 15 menit untuk mencapai rumahnya di kampung. Sesampainya di rumah, Riska langsung mencari Bapaknya. "Assalamualaikum....Bapak...Assalamualaikum." Kata Riska ketika memasuki kamar Bapaknya. Kok sepi. Bapak ke mana? Tanyanya dalam hati. Dia kemudian mencari Ibunya ke dapur. "Bu....Ibu....Assalamualaikum." Kok gak ada orang di rumah Jangan - jangan sudah di Rumah Sakit."Pikirnya.

Riska kemudian ke rumah Bu Dhenya yang terletak di belakang rumahnya. "Bu Dhe.... Assalamualaikum." Katanya sambil membuka pintu yang tidak terkunci. "Kok sepi juga." Kemana mereka semua? " Dia terus berjalan ke arah dapur "Siapa tahu budhe dapur." Gumamnya sambil membuka korden setiap pintu yang dia lewati menuju ke dapur.

Byur...byur... terdengar suara air terguyur dari arah kamar mandi. "ini pasti Bu Dhe." Pikirnya. "Bu Dhe...ini Riska" katanya sambil mengetuk pintu kamar mandi. "Ee...kamu nduk. Kapan datangnya? Tunggu sebentar ya, Bu dhe menyelesaikan mandi dulu."jawab Bu Dhe sambil mengguyurkan air. "Ya Bu Dhe, tak tunggu di depan TV ya." Riska bergegas meninggalkan kamar mandi dan berjalan ke. Ruang tamu. Dia duduk santai di atas tikar yang digelar di depan TV. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa penat. Matanya terasa sangat berat. Akhirnya dia pun terlelap di depan TV

Riska terbangun ketika ada tangan mengguncangkan badannya. 'Nduk ... bangun. Sudah sore." Kata Bu Dhe membangunkannya. "Bapak dan ibu kemana ya Dhe? Kok rumah gak ada orang. tanya Riska. "Bapakmu tadi ke sawah mengairi padi. Katanya eman- Eman mumpung ada air. Ibumu ke rumah Mbah itu. Lha adikmu sekolah TPQ belum pulang. Jadi rumahnya ya suwung, gak ada orang. Paling sebentar lagi juga pulang. Di tunggu di rumah saja." Jelas Bu dhe panjang lebar.

Riska jadi bingung, katanya sakit, besok mau operasi, sampai sore begini belum pulang. Gimana sebenarnya yang terjadi?

Dari kejauhan Riska mendengar suara sepeda motor mendekati rumahnya. Dia kemudian keluar menengok siapa yang datang. Seseorang yang memakai kaos oblong warna belepotan lumpur sedang mengendarai motor tua berwarna hijau. Suara motornya tidak asing di telinga Riska.

" Pasti yang datang Bapak., Dia kemudian lari lari ke depan sambil menghampirinya.

"Bapak gimana to, lha wong sakit kok malah kerja. Istirahat to Pak. Biar cepat sembuh." Kata Riska sambil menuntun bapaknBa ke rumah. "Bapak gak apa apa Nduk. Cuma ada benjolan kecil ini lho." Jelasnya sambil menunjukkan benjolan kecil yang ada di liang telinga.

Riska pun mengamati benjolan kecil itu. Hanya benjolan kecil seperti bisul, bersisik dan tidak membengkak. Rasanya biasa saja, tidak sakit tapi mengganggu pendengaran.

" Kapan operasinya, Pak? Tanya Riska. ' masih besok jam 15. 00.." jawab Bapaknya. "Cak apa apa Yo nduk. Bapak sehat, kamu gak usah khawatir. Kamu istirahat sana, besok Bapak di antar ke rumah sakit." Kata Bapak sambil menenangkan anaknya.

Keesokan harinya, Riska sekeluarga mengantarkan bapak ke RSU. Rujukan dari dokter diberikan ke bagian pendaftaran. Ruang Maranatha ya Pak. Tidak berapa lama, datang perawat menghampirinya. "Mari saya antar Pak. Lewat sini ya." Kata perawat sambil berjalan menunjukkan ruangannya.

"Wow...besar sekali rumah sakitnya. Past mahal. Nanti bayarnya gimana? Sambil berjalan Riska memikirkan hal-hal di luar jangkauannya.

"Sudah sampai Pak. Mari silahkan tidur. Saya akan pasang infusnya.' kata perawat sambil mempersiapkan infusan. " Ya Sus." Jawab Bapak sembari berbaring di atas dipan yang terbuat dari stainless. Kasurnya dibungkus dengan Sorai warna biru muda. "Bapak langsung puasa ya, nanti operasi akan dilakukan jam 16.00." jelas perawat ruang itu. "Ya Sus. Terima kasih." Bawah Bapak.

Riska dan Bapaknya berbincang ke sana kemari hingga tak terasa waktu operasi pun tiba. Seorang perawat masuk ke ruangan dan menggeledak Bapak ke ruang operasi. Riska mengikuti dari belakang. Takut dan khawatir atas keselamatan Bapaknya. Hampir dua jam operasi berlangsung. Riska dan Ibunya dengan sabar menunggui bapaknya.

"Bapak belum sadar juga ya Bu? Gimana ini? Tanya Riska pada Ibunya. " Gak apa apa Nduk, mungkin pengaruh biusnya belum hilang. Yang sabar ya. Didoakan semoga semua baik- baik saja." Kata ibu menenangkan hati Riska.'

Satu jam telah berlalu Bapak sudah mulai tampak pulih. Telinga yang habis operasi dibungkus dengan perban. Riska beringsut mendekati ibunya. "Bu... Berapa biaya operasinya? Pasti Mahal ya Bu? Padahal satu bulan lagi Riska juga harus bayar uang semesteran. Dari mana memperoleh uang untuk membayar? Sawah juga belum panen. Gimana Bu?

" Kamu gak usah mikirin biaya nduk, biar bapak dan ibu saja. Kemarin Ibu sudah pinjam uang ke rumah embah, Alhamdulillah diberi pinjaman untuk biaya operasi. Untuk uang semestermu, katanya mau dibayar pak likmu. Jadi kamu tenang saja, yang belajar biar cepat lulus dan selalu doakan Bapak agar cepat sembuh." Jelas Ibunya.

Karena kelelahan akhrakhi mereka tertidur pulas di atas tikar yang digelar di atas keramik yang berwarna abu-abu.

Keesokan harinya dokter melakukan visitasi ke ruangan. Dia memeriksa bagian telinga yang kemarin di operasi. "Gimana dok hasilnya?" Tanya Riska. "Alhamdulillah bekas operasi sudah baik. Tapi dari hasil pemeriksaan sampel benjolan nya menunjukkan benjolan itu merupakan kanker kulit yang ganas. Jadi Paling tidak satu Minggu setelah operasi ini pasien harus segera melakukan kemoterapi secara rutin. Dari hasil pemeriksaan juga menunjukkan bahwa bibit kanker ini sudah menyebar di sekitar telinga."jelas dokter.

Bagaikan petir di siang bolong. Riska langsung sesenggukan d pangkuan ibunya. Membayangkan apa yang akan terjadi dengan bapaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya?

To be continue....

Cikfat 090818

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali