Siti Fatimah

Alumnus PPS UNNES bekerja di SMP 2 Kudus sejak tahun 1995 Mata Pelajaran IPA...

Selengkapnya
Belajar Bareng... (Bagian 3)

Belajar Bareng... (Bagian 3)

Malam itu aku dan Dian masih tetap berada di ruang tamu yang digelari karpet berwarna ungu. Warna kesukaanku. Walaupun banyak yang berkata warna ungu adalah warna untuk janda, tapi menurutku warna ungu adalah warna yang menandakan makna ketegaran. Ketegaran menjalani kehidupan, yang terkadang diberikan ujian dan cobaan dari sang Khalik.

Di ruang itu, Kami masih berkutat belajar menulis dan membaca bahasan Arab .Aku sengaja menuliskan ayat-ayat yang sudah dikenal oleh Dian, yaitu surat Alfatihah. Setelah kutuliskan di papan tulis yang berwarna putih berukuran 1 x 0.45 cm itu, Lumintang Dian menuliskan ulang di bawahnya.

" Bu Fat yang itu nulisnya gimana?" Tanya Dian sambil menunjukkan tulisan Alhamdulillah.....yang ada di papan tulis.

" Oo...yang itu. Kamu tarik garis lurus, kemudian bengkokkan ke kanan, setelah itu bengkokkan ke kiri, seperti ini." Jawabku sambil memperagakan cara menulisnya dengan benar.

Dian pun mengikuti langkah-langkah menulis yang kuajarkan.

" Begini Bu Fat." Tanya Dian sambil terus melanjutkan tulisannya.

" Ya, bagus seprsep itu. Kamu dah pinter nulis mbak Dian. Sekarang kamu baca tulisanmu." Jawabku.

Dian pun mulai mengeja tulisan yang dibuatnya.

" Coba dibaca langsung, tanpa mengeja. Bisa nggak? Kataku padanya.

"Aku belum bisa Bu Fat." Jawabnya sambil beringsut mendekatiku.

" Masa? Bu Fat yakin, kamu bisa. Coba sekarang dibaca tanpa mengeja." Perintahku lagi.

Dia pun mencoba membaca tanpa mengeja

" Alhamdulillahirabbil'aalamiina."

Sepertinya setelah dapat membaca awalnya, Dian dapat melanjutkan bacaannya walaupun tidak melihat tulisan. Mungkin karena dia sudah hafal surat tersebut. Tapi aku tidak begitu menghiraukan, yang penting semangat belajarnya masih terus terpancar dari dalam hatinya.. Aku mengajarinya hingga ayat ke empat dari surat Alfatihah . Dian pun tetap semangat menulis dan kemudian membaca tulisannya. Setelah beberapa kali belajar menulis dan membaca tulisan arab kelihatanya dia sudah mulai bosan. Dia kemudian menghapus semua tulisan yang memenuhi papan tulis, dan mulai menuliskan angka - angka.

Angka yang ditulis pertama kali adalah 2+1 = ...

Dia pun menanyakan jawabannya kepadaku.

"Bu Fat 2+1 berapa?"

" Dua tambah satu sama dengan lima dikurangi dua mbak Dian." Jawabku sambil tersenyum-- senyum. Kulihat wajah Dian kebingungan mendengar jawabanku.

"Kok lima Bu Fat?" Tanya Dian sambil menghitung soal yang dibuatnya dengan jari-jarinya.

" Bu Fat ....dua tambah satu itu tiga." Katanya sambil menunjukkan jari-jarinya.

" Hehehe...tadi Bu Fat jawabnya berapa? " Tanyaku

"Lima Bu Fat." Jawab Dian.

"Bukan lima,. tapi lima dikurangi dua ."kataku menegaskan jawabanku sebelumnya.

" Coba kamu jitu, lima dikurangi dua ada berapa? Kataku balik bertanya.

Dian kembali menggunakan jari-jarinya untuk menghitungnya.

"Berapa mbak Dian?" Tanyaku

" Ehmmm....tiga Bu Fat." Jawabnya.

' "kalau begitu hasilnya sama dengan dua ditambah satu kan ." Kataku.

Dian hanya tersenyum melihat kenyataan bahwa jawabanku ternyata benar.

Melihat keasyikan kami belajar bareng, dua anak laki-laki , Rafa dan temannya yang semula sedang asyik bermain di luar, masuk ke rumah menghampiri Dian.

"Mbak Dian sedang apa Bu Fat?" Tanya Rafa.

" Belajar menghitung. Ayo sana kalian belajar bareng." Jawabku.

" Temanmu yang satu itu, siapa namanya?" Tanyaku pada Rafa.

"Yoga Bu Fat." Jawab Rafa singkat

"OOO....Yoga. Bu Fat kok gak pernah melihat dia. Dimana tempat tinggalnya?" Tanyaku lagi.

"Di sana lho Bu..di atas. Dekat rumahnya Mbah." Jawab Rafa sambil memegang spidol warna hitam.

Rafa mulai menulis operasi penambahan di papan tulis. Dia tuliskan penambahan dengan angka - angka yang lebih besar, kemudian dia memikirkannya sebentar dan menuliskan hasilnya. Kulihat semua soal operasi penambahan yang dia buat, jawabannya benar semua. Dalam hatiku aku berkata" Wak Rafa sudah pintar dan paham dengan operasi penambahan, sedangkan Dian dan Yoga masih pemula. Menghitung pun harus menggunakan jari-jarinya."

" Mas Yoga, kamu kelas berapa?" Tanyaku pada Yoga .

"Kelas dua." Jawabnya sambil memperhatikan Dian yang sedang menulis operasi penambahan bilangan di papan tulis.

"Oo.. sudah kelas dua ya. Berarti sudah bisa tambah-tambah am? Tanyaku lagu.

Dia pun mengangguk, mengisaratkan kalau dia sudah dapat menggunakan operasi penambahan.

"Kalau begitu, sekarang kamu ajari mbak Dian menghitung." Kataku

Yoga kemudian merapatkan posisi ke arah Dian dan aku bergeser mundur untuk memberikan kesempatan mereka belajar bareng.

Aku hanya mengamati mereka dan sesekali menanyakan kebenaran jawabannya untuk klarifikasi.

"Wah .. keren banget mereka. Masih kecil sudah antusias belajar. Coba semua anak anak rajin dan semangat belajar seperti mereka, pasti pendidikan di Indonesia cepat maju dan mampu bersaing di era global ini. " Kataku dalam hati.

Tak terasa jam dinding sudah menunjukkan angka sembilan. Aku bergegas mengakhiri keasyikan belajar merrme.

" Rafa, Dian , Yoga, sudah jam sembilan malam, saatnya kalian istirahat. Berhenti dulu ya belajarnya, besok dilanjutkan lagi.

Mendengar ucapannya, mereka langsung berhamburan keluar dan pulang ke rumah masing-masing.

Semoga semangat belajarnya selausmembara hingga nerrme dewasa.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali