Siti Fatimah

Alumnus PPS UNNES bekerja di SMP 2 Kudus sejak tahun 1995 Mata Pelajaran IPA...

Selengkapnya
Belajar Bareng....(Bagian 2)

Belajar Bareng....(Bagian 2)

Sore itu, Dian akhirnya pulang ke rumahnya dan aku melanjutkan aktivitas rutinku. Tiba-tiba dari luar rumah terdengar suara panggilan "Bu, sudah siap, ayo berangkat."

Aku pun berlari-lari kecil mendengar suara panggilan itu. Kutengok dari jendela kamarku, dan ternyata sudah ada lima ibu-ibu yang sedang menunggu di depan rumah. "Ya Bu, tunggu sebentar" jawabku.

Aku yang saat itu habis shalat magrib dan membacaa surat Yasin untuk mendoakan ahli kuburku, segera bergegas ganti baju dan segera bergabuing dengan mereka. Yah, Kami sudah membuat kesepakatan untuk menjengkok Pasha, anak tetanggaku yang baru saja pulang dari rumah sakit.

"Monggo ibu-ibu, saya sudah siap." kata sambil berjalan ke arah rumah mbak Tiwi.

"Monggo, ayo anak-anak yang mau ikut, jalan duluan." jaawab mbak Wulan samil memerintahkan anak-anak kecil untuk berjalan dulu.

Rumah mbak Tiwi tidak jauh, hanya sekitar 10 meter dari rumahku. Anaknya yang bernama Phasa sudah tiga hari masuk ke rumah sakit, karena menderita infeksi saluran pencernaan. Tetapi kami para tetangga belum sempat bezuk ke rumah sakit, sehingga sore ini, selepas magrib, kami bersama-sama bertandang ke rumahnya untuk menjenguknya.

Sesampai di rumahnya, kulihat Phasa sudah bermain dengan teman-temannya, dan kami kami pun disambut dengan berbagai sajian jajanan di rumahnya.

"Gimana Mbak Tiwi, Phasa dah sehat?" tanya mbak Wulan.

"Sudah Mbak, tuh malah anaknya dah lari-lari.: jawab mbak Tiwi.

"Sakitnya apa Mbak?" tanya mama Rafa.

"Kata dokternya, ada infeksi di saluran pencernaan. Kurang serat dan sayuran katanya. Memang Phasa suka makan mie terus, dan gak mau makan sayur, jadi ya begitu jadinya mbak." jawab mbak Tiwi sambil menyajikan bakwan dan monyos yang baru saja di belinya.

"Ya, anak sekarang sukanya makan seperti itu, mie, nugget, fried chicken, dan makanan siap saji lainnya." kata mbak Wulan sambil menyantap sajia yang ada di depannya.

Kami pun akhirnya berbincang ke sana ke mari, gak jelas ujungnya. Lama kami berbincang, mungkin untuk mengakrabkan persaudaraan dengan tetangga, hingga akhirnya kami pulang jam 20.00.

Aku segera bergegas pulang, karena aku belum menyiapkan makan malam untuk anakku. Sesampai di rumah, aku segera memasak menyiapka menu makan malam, yaitu oseng kangkung dan tempe goreng. Cukup sederhana, tapi menyehatkan.

"Memasak dah kelar, sekarang tinggal makan dan sehabis itu melanjutkan mengoreksi." kataku dalam hati.

Saat aku menyajikan makanan, tiba-tiba Dian masuk dan berkata "Bu fat, ajari aku membaca lagi."

Dalam haiti aku terheran-heran "Anak ini, tadi sore sudah minta belajar membaca dan menulis, sekarang minta belajar lagi?"

Aku yang sudah capek seharian bekerja sebenarnya mau menolak, tetapi melihat raut wajahnya yang memelas aku jadi tidak tega menolak permintaanya.

"Ya, tapi nanti ya, setelah Bu Fat makan malam." Jawabku sambil menyajikan makan malam.

Dia pun mengangguk, dan menungguku sambil menonton televisi. Aku dan anak sulungku melanjutkan acara makan malam.

"Mbak Dian sudah makan Belum? tanyaku padanya sambil menawari makan lagi.

"Sudah Bu. Jawabnya sambil bergeser mendekatiku.

"Kamu mau makan kagi?" tanyaku lagi.

Dia tidak menjawab, hanya gelengan kepalanya menandakan dia tidak mau makan lagi.

Aku pun mempercepat acara makan malamku.

"Ayo mbak Dian, ke depan. Kamu diajari membaca apa?" tanyaku padanya.

"Menulis arab bu Fat."Jawabnya.

"Lho kok menulis? Tadi katanya mau belajar membaca, kok malah jadi menulis." kataku mempertanyakan kebenaran jawabannya.

"iya bu Fat, aku belum bisa menulis arab. Ajari aku nulis arab bu Fat." jawabnya sambil memberiku spidol.

"Oke. saya ajari menulis arab. Bu Fat tuliskan di papan tulis, nanti kamu mencoba menuliskan ulang dan membacanya ya." kataku.

Aku pun mengajarinya menulis arab. Kutuliskan kalimat "Bismillahirahmaanirrahim".

Dia pun mencoba menulis ulang kata itu. Tulisannya sudah lumayan bagus untuk seukuran anak TK besar.

"Bagus tulisannya." kataku memujinya.

Dia hanya tersenyum mendengar pujianku.

"Kamu sudah bisa menulis arab dengan bagus begitu, kok bilangnya bilangnya belum bisa nulis?" tanyaku padanya.

"Iya bu Fat. Tapi aku belum bisa nulis yang digandeng-gandeng seperti ini." jawabnya sambil menunjukkan tulisan arabnya yang masih agak jelek.

"Tulisan kamu sudah bagus, kamu harus rajin belajar menulis terus setiap hari, biar kamu lebih pandai menulis." kataku menasihatinya.

"Sekarang coba kamu baca tulisanmu." kataku

Dia pun mencoba membaca tulisannya. Walaupun dengan sedikit mengeja- eja dan menghafal, dia sudah bisa membaca tulisan arabnya.

#Semangat pagi semua.... kita sambung nanti ceritanya......ok. Happy weekend...

Cikfat. 30.09.2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Luar biasa...mbak Dian, semangat belajarnya tinggi. Rajin pangkal pandai. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah....cikfat.

30 Sep
Balas

Iya Bun....masih kecil dah rajin belajar. Semoga Istikomah belajarnya. Salam sehat dan sukses untuk Bunda Raihana

30 Sep

Wah..mbak Dian semangat belajarnya tinggi ya....

30 Sep
Balas

Ya Bu Rini. Resepnya apa ya.

30 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali