Siti Fatimah

Alumnus PPS UNNES bekerja di SMP 2 Kudus sejak tahun 1995 Mata Pelajaran IPA...

Selengkapnya

Mengorbankan Kejujuran

Penilaian Tengan Semester hari ini memasuki hari terakhir. Aku berharap mereka yang menghadapi tes ini,diberikan kelancaran, diberikan kemudahan, dan memperoleh hasil yang terbaik. Selain mencapai hasil yang terbaik, aku juga berharap mereka mengerjakan tes ini dengan jujur. Tetapi harapanku ini tak sepenuhnya terpenuhi. Masih banyak kujumpai anak-anak yang rela mengorbankan kejujurannya demi sebuah nilai. Mereka rela melakukan kecurangan-kecurangan hanya untuk mendapatkan nilai ujian yang baik. Ada yang membawa catatan kecil diletakkan di tempat pensilnya, ada yang saling memberikan kode, ada yang bertanya pada teman yang berada di dekatnya, ada yang pamit ke belakang tetapi di kamar mandi membuka contekkannya, ada yang secara sembunyi-sembunyi menggunakan HP untuk brousing, bahkan ada yang secara terang-terangan membuka catatannya. Sungguh memprihatinkan. Aku sampai mengurut dada mendengar curhatan anak-anakku yang dengan jujur mengerjakan ujian. Mereka merasa khawatir kalau hasil yang mereka peroleh dikalahkan oleh ketidakjujuran temannya. Aku menenangkan mereka dengan sebuah penghargaan "yang mengerjakan dengan jujur akan diberikan bonus nilai kejujuran, tetapi yang tidak jujur akan dikurangi nilainya.

Sebenarnya, dalam tes sudah di awasi oleh bapak ibu guru pengawas. Sudah sering kali para pengawas menegur, dan memperingatkan mereka yang menggadaikan kejujurannya dengan menyontek. Tetapi mereka masih saja mengulangi perbuatannya. Mengapa mereka rela mengorbankan kejujurannya? Salah satu faktor yang sangat dominan adalah kurangnya persiapan mereka menghadapi tes. Mereka tidak belajar secara maksimal sehingga banyak soal yang tidak bisa mereka selesaikan. Faktor yang kedua adalah rasa takut dimarahi oleh orang tuanya. Terkadang orang tua mengharuskan anaknya harus mencapai nilai yang sempurna, jika anaknya memperoleh nilai yang jelek maka anaknya akan dimarahi, dikenai hukuman dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk mencapai nilai yang baik bebrapa anak menempuh jalan yang tidak benar yaitu dengan cara menyontek. Faktor yang ketiga, kurangnya rasa percaya diri pada anak. Sebenarnya anak sudah dapat mengerjakan, tetapi dia tidak yakin dengan jawabannya. Untuk meneglarifikasi jawabannya, dia membuka catatan kecilnya saat tes. Faktor yang keempat, kurangnya nilai kejujuran dalam diri anak. Anak yang terbiasa tidak jujur, sering kali akan mengulang ketidakjujurannya untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

Melihat fenomena itu, aku jadi prihatin sendiri, karena merasa belum berhasil menanamkan nilai kejujuran pada mereka. Oleh karena itu, aku berusaha menanamkan pada anakku sendiri di rumah "Anakku nilai bukan segala-galanya. Jadi kalau kamu mengerjakan ujian jangan berlaku curang. jangan menyontek, jangan tanyaa-tanya pada teman. Kalau kamu tidak bisa jawab ya dipikirkan ulang, dianalisis, dan jawab sesuai apa yang kamu bisa."

"Kalau nilaiku jelek gimna ma?" tanya anakku.

"Kalau kamu sudah belajar, dan nilaimu masih jelek, kamu ya harus berusaha belajar lebih baik lagi." jawabku.

Semoga anak didikku dan anakku menjadi generasi penerus bangsa yang jujur dan amanah. Aamiin..

Cikfat. 21.09.2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Itulah perlunya pendidikan karakter dari semua sisi, mereka juga belajar dari sistem yang "kurang"memberi temoat pada kejujuran. Mari kita terus berjuang mengajar kejujuran !

22 Sep
Balas

Insyaallah....

26 Sep

Perlu ada ketegasan dari para guru untuk melaksanakan tati dalam ujian, dan kita harus benar-benar konsisten, kalau tidak maka anak-anak didik kita punya beribu cara untuk berbuat curang, tanamkan pendidikan karakter yang lebih terutama dalam hal sikap kejujuran

21 Sep
Balas

Tips. Betul pak guru.

26 Sep

Aamiin ya robbal alaamiin. Dimana-mana koq sama ya...cikgu. Apa ini wabah ? Semoga selalu ada "kekuatan" bagi kita untuk memberikan nasehat pada anak-anak kita agar kelak menjadi penerus yang jujur dan amanah. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah....cikfat.

21 Sep
Balas

Wabah Bun. Say baca artikel di web malah berdasarkan hasil penelitian hampir 80 % siswa menyontek Bun. Puding jadinya melihat fakta. Semoga ada perubahan yang lebih baik Bu. Samakan sehat dan sukses juga untuk Bunda Raihana

21 Sep

Aamiin, setuju cik fat. Kita memang harus selalu menanamkan kejujuran dalam hal apapun dan tidak boleh lelah.

21 Sep
Balas

Tips. Insyaallah Bu Rita. Semangat pagi. Barakallah

21 Sep

Terlalu banyak faktor yang mengiringi ketidakjujuran....semoga kita tetap istiqomah dalam menanamkan nilai kejujuran kepada anak didik kita...

21 Sep
Balas

Iya Bu Rini. Semoga kita tidak pernah lelah menanamkan kejujuran pada anak-anak kita

21 Sep

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali