Siti Fatimah

Alumnus PPS UNNES bekerja di SMP 2 Kudus sejak tahun 1995 Mata Pelajaran IPA...

Selengkapnya
My Diary on Penang #2 (Naik Ojek ke Ibukota)

My Diary on Penang #2 (Naik Ojek ke Ibukota)

Deg-degan rasanya hatiku ketika Pak Ojek mulai menarik gas motornya dengan keras. Tanganku spontan memegang bilah besi pada bagian belakang jok motor agar aku tidak terjatuh. Kutepuk bahu Pak Ojek sambil berkata “Pak, jangan ngebut ya. Pelan-pelan saja. ya Pak, anakku masih kecil-kecil.”

“Ya, Bu. Ini sudah pelan-pelan, hanya 70 km/jam. Anak saya juga masih kecil-kecil. Tenang saja, saya akan hati-hati.” Jawabnya sambil menarik gas motornya lagi.

Matanya terlihat fokus melihat ke depan, dan sesekali dia menengok kea rah spion yang sudah mulai kusam karena banyak debu, untuk melihat situasi jalan dibelakang motornya.

Kami menyusuri sekitar Jalan Daan Mogot, kemudian melaju di sepanjang jalan layang. Entah daerah mana saja yang dilalui, aku benar-benar buta sama sekali. Tidak tahu jalan, dan tidak tahu arah. Aku hanya pasrah, entah mau dibawa kemana aku ini. Begitu berliku-liku jalan layang yang dilalui. Dalam hatiku aku baertanya-tanya “Apakah seperti ini ya, jalanan metropolitan. Benar-benar polat-palitan alias sangat ruwet.”

Untuk memecah kesepian dan menghilangkan rasa ketakutanku, aku mencoba membuka pembicaraan.

“Pak Ojek asalnya darimana? Kalau melihat cara bicara Bapak, sepertinya Bapak tidak asli orang Jakarta.” Tanyaku.

“Benar, Bu. Saya memang tidak asli Jakarta.” Jawabnya sambil matanya terus memandang ke depan.

“Kalau melihat logat bicara Bapak, Bapak dari Jawa Tengah ya?” tanyaku lagi.

“Ibu pintar menebak. Betul Bu. Saya memang dari Jawa Tengah.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Jawa Tengahnya mana Pak? Saya juga dari Jawa Tengah. Jangan-jangan kita tetangga, Pak.” Tanyaku sok ramah. Sebenarnya aku hanya ingin memastikan bahwa orang yang kutumpangi ini baik atau tidak.

“Saya dari Wonogiri, Bu. Lha Ibu sendiri dari mana? Kenapa datang dari jauh ke Jakarta?” Jawabnya sembari bertanya kepadaku.

“Kalau saya dari Kudus, Pak. Jauh – jauh ke Jakarta karena ikut pelatihan Pak.” Jawabku. Aku pun balik bertanya kepadanya, “Bapak sudah lama kerja di Jakarta?”

“Sudah Bu, hampir 2 tahun.” Jawabnya sambil terus melaju.

Hatiku rasanya lebih tenang, setelah mengetahui bahwa Pak Ojek yang kutumpangi berasal dari Wonogiri. Seperti ada chemistry saja, sesama orang Jawa Tengah, pasti saling menjaga dan melindungi, tidak mungkin ada niat jahat pada penumpangnya.

Tak terasa perjalanan yang kami tempuh sudah begitu jauh, sudah hampir setengah jam kami berkendara, dan melaju di sepanjang jalan layang yang berliku-liku, dan sekarang memasuki wilayah perkotaan. Sungguh pemandangan yang menyesakkan dada. Kendaraan bermotor berjubel di sepanjang jalan, seperti yang sering kulihat di televisi tentang suasana Ibukota yang penuh dengan kemacetan. Apalagi saat pagi hari seperti sekarang, para pekerja semua berangkat dengan sepeda motor.

Pemandangan ini sangat berbeda dengan apa yang pernah kulihat dan kualami ketika di Singapura. Ketika itu Aku bersama guru dan sebagian siswa SMP 2 Kudus mengadakan studi banding ke Singapura. Sekolah yang dituju adalah SMK Ceras. Untuk mencapai SMK tersebut, pagi-pagi sekitar jam 6 waktu setempat, aku dan semua rombongan harus berjalan kaki kurang lebih satu jam menuju ke stasium MRT (Monorail Train). Selama kami berjalan, hampir tidak kulihat sepeda motor melintas di jalanan, hanya beberapa mobil pribadi saja yang melintas, sehingga jalan raya terlihat lengang dan sepi. Para pekerja banyak yang berjalan kaki seperti yang aku lakukan, menuju ke stasiun kereta api. Setelah sampai di stasiun, kulihat banyak para pekerja yang mengantri untuk menaiki kereta api tersebut. Sungguh luar biasa budaya sehat yang dilakukan. Berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum untuk berangkat kerja.

Anganku pun dibuyarkan oleh adanya dorongan sebuah motor dari beakang. Aku menoleh ke belakang, tapi anehnya orang yang menendang motor ojekanku malah tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin bagi mereka hal seperti itu sudah biasa terjadi. Pak Ojek pun juga tidak menggubris tendangan motor tadi. Dia terus mencoba mencari celah supaya cepat sampai tujuan. Senggol kanan, senggol kiri tancap gas. “Paakkk…..awas!!!!” kataku mengingatkan Pak Ojek karena stang motornya hampir mengenai stang pengendara di sampingnya.

“Ya, Bu. Santai saja. Memang begini kalau pagi hari.” Katanya sambil menoleh ke samping. Dia tersenyum pada laki-laki yang tadi hampir tersenggol oleh stangnya.

Laki-laki yang ada di sampingnya ikut tersenyum. Mungkin berarti damai. Tidak ada masalah dengan acara senggol-menyenggol di jalan raya.

Tiba-tiba mesin motor Pak Ojek berhenti. “Ada apa Pak?” tanyaku dengan perasaan risau.

“Gak ada apa-apa, tenang saja Bu. Sudah biasa seperti ini. Maklum….motor tua, suka ngadat.” Jawabnya santai.

Dia buru-buru menstater motornya lagi, dan anehnya sekali di stater mesinnya sudah bisa hidup lagi. Hatiku merasa lega. Coba bayangkan, kalau tadi benar-benar mogok di tengah kerumunan kendaraan bermotor, apa yang akan terjadi? Iihhhh …..mengerikan. Bisa-bisa terlindas sana-sini. Mau ke depan gak bisa, ke samping juga tidak bisa. Beruntunglah mesin segera menyala. Pak Ojek pun menarik gasnya keras-keras. Motornya dib layer-blayer, sepertinya dia sudah tidak sabar lagi menghadapi kemacetan. Benar saja apa yang kuduga. Dia kemudian mengalihkan kemudinya ke arah trotoar, dan kami pun melaju di sepanjang trotoar.

“Pak, hati-hati. Di depan ada lubang.” Kataku mengingatkan. Aku merasa merinding di ajak naik sepeda motor seperti off road.

Dalam hati aku berkata “aku kapok kalau ngojek begini. Ngojek dengan taruhan nyawa. Semoga tidak terulang lagi.”

Saking takutnya, kupenjamkan mataku. Aku pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Tiba-tiba Pak Ojek memanggilku. “Bu…..”

Aku tersentak kaget, dan kubuka mataku.

“Ada apa Pak?” tanyaku padanya.

“Sudah sampai. Itu hotel Jayakarta. Betul kan Bu.” Jawabnya.

Alhamdullilah…..Ya Allah….Akhirnya sampai juga setelah off road yang menegangkan.

“Oh… iya Pak. Betul .. itu Hotelnya.” Kataku

Aku pun bergegas turun dari jok motornya. Pak Ojek juga membantu menurunkan koper bawaanku yang ditaruh di depannya.

“Ini Pak Ongkosnya.” Kataku sambil memberikan uang sepuluh ribuan tiga lembar pada Pak Ojek.

Dia menerima uang itu, dan menghitungnya. “Bu, uangnya kebanyakan.” Katanya sambil mengembalikan satu lembar uang sepuluh ribuan.

“Gak usah Pak. Itu untuk Bapak saja. Saya sengaja menambahkan karena Bapak sudah mengantar saya dengan selamat.” Jawabku.

“OO…Gitu, Bu. Kalau begitu terima kasih, Bu.” Kata Pak Ojek sambil bergegas memutar motornya untuk kembali ke pangkalan ojek.

Aku pun bergegas berjalan menuju ke pintu gerbang hotel Jayakarta. Disepanjang perjalanku, aku masih teringat pengalaman ngojek yang seru dan menegangkan. Wonderfull experience.

Cikfat. 04.10.2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah , Semakin mantabs ceritanya, lanjutkan ibu, Barokallah

04 Oct
Balas

ok Pak guru.......Makasih.

04 Oct

Bener kan ceritanya seru...ada lagi kelanjutannya kan cik fat?

04 Oct
Balas

Ikut berdebar-debar membacanya, cikgu. Betul- betul pengalaman yang luar biasa. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah....cikgu.

04 Oct
Balas

Makasih Bunda....salam sehat selalu Bunda.Barakallah

04 Oct

Tegang namun asyik krn terangkai indah. Salam kenal bu. Barakallah

04 Oct
Balas

Makasih Ibu. Salam kenal juga dari saya. Semoga sukses selalu Ibu.

04 Oct

Wah..jadinya seperti nonton "Fast and Furious"....lanjut Cik Fat....

04 Oct
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali