Siti Fatimah

Alumnus PPS UNNES bekerja di SMP 2 Kudus sejak tahun 1995 Mata Pelajaran IPA...

Selengkapnya
My Diary on Penang #3(Check in....)

My Diary on Penang #3(Check in....)

Jakarta, 31 Oktober 2010

Hari ini aku seperti orang asing di negeri sendiri. Aku tidak tahu jalan, arah, dan tidak mengenal apapun di daerah sekitar Hotel Jayakarta. Aku yang baru saja turun dari motor seorang tukang ojek berjalan ke arah teras Hotel Jayakarta. Banyak mata memandangku. Mungkin mereka mengira aku salah arah. Aku tetap melanjutkan langkahku tanpa menghiraukan pandangan mereka. Dengan pakaian yang sudah kusut, dan badan yang masih dipenuhi keringat, aku masuk ruang resepsionis hotel itu. Kusapukan pandanganku ke seluruh ruangan, tapi tak ada satu pun orang yang kukenal. Aku mulai bimbang dan ragu. Dalam hatiku berkata “Jangan-jangan aku salah alamat nih, atau salah hari. Kelihatannya benar. Dalam surat tugas sudah dituliskan dengan jelas, hari, tanggal, dan tempatnya. Kenapa masih sepi begini? Apa mungkin aku terlalu pagi datangnya ya. Jadwal check in jam 13.00, sekarang baru jam 10.00. Pasti itu penyebabnya, aku terlalu pagi datang ke Jakarta.”

Begitulah aku menenteramkan hatiku sendiri. Aku kemudian masuk ke ruang tunggu hotel dan menyandarkan badanku di kursi yang terletak di sudut ruangan. Kuletakkan koper dan tas punggung yang sejak tadi membebani tubuhku di atas lantai berwarna hitam mengkilap. Sambil bersandar, kulepaskan lelahku dan kunikmati pemandangan hotel yang menyenangkan. Udaranya yang sejuk membuat mataku mulai mengantuk, tetapi aku merasa takut memenjamkan mataku di tempat yang belum kukenal. Aku berusaha mengalihkan rasa kantukku dengan melihat-lihat pemandangan di sekitar Hotel Jayakarta. Kulihat pegawai Hotel berlalu lalang menyambut para tamu yang datang. Dengan dandanan yang cantik, mereka menyambut setiap tamu yang datang. Mereka juga menebarkan keramahan pada setiap tamunya, senyuman di bibirnya tidak pernah terlupa diberikan pada para tamu. Mereka juga siap siaga membawakan tas, koper, dan apapun yang dibawa oleh tamu masuk ke ruangan Hotel. Bagi mereka tamu adalah raja yang harus disambut dan dilayani dengan baik.. “Benar-benar pelayanan prima.”Kataku dalam hati.

Sudah setengah jam aku duduk dan bersandar di kursi yang terletak di sudut ruangan, tetapi belum ada gejala – gejala datangnya tamu undangan dari Direktorat. Aku mulai galau. Kutenteng kembali tas punggungku, dan mencoba menengok keluar Hotel. Suasana di luar Hotel sangat ramai. Hiruk pikuk kendaraan berlalu-lalang melintas di depan Hotel. Kulihat sebuah bangunan yang besar bertuliskan LTC. Gedung itu merupakan pusat penjualan barang elektronik terbesar di Jakarta. “Oalah, pantas saja, jalanan di sini ramai sekali. Wong di depannya ada pasar elektronik terbesar di Jakarta.” Kataku sambil terus melihat kondisi jalanan di depan Hotel Jayakarta.

Hampir lima belas menit aku terpaku berdiri di depan hotel. Tiba – tiba belakang ada seseorang yang menyapaku. “Bu, maaf. Kalau boleh tahu apa keperluan Ibu ke hotel ini? Ada yang bisa saya bantu.”

Aku pun menoleh ke arahnya. Ternyata yang datang ke arahku adalah salah satu pegawai hotel. Aku kemudian membalikkan badanku ke arahnya. “Woowww……” kataku sambil terpaku memandangnya. Wajahnya sangat cantik dan dari bibirnya tersungging senyuman yang manis sehingga menambah pesona kecantikannya. Aku berusaha untuk tetap tenang dan mencoba merespon pertanyaannya yang mengejutkanku.. “ Iya mbak. A...aa..ada apa? “

“Ibu….ada yang bisa saya bantu?” katanya lagi dengan wajah yang masih dibalut dengan senyuman.

“Oh ….tentu. terima kasih, mbak.” Jawabku dengan raut wajah yang agak malu.

“Mari masuk Ibu.” Katanya mempersilakan aku menuju ke ruang resepsionis.

“Ya. Makasih Mbak.” kataku sambil melangkahkan kakiku menuju ke ruang resepsionis.

Dia terus mendampingiku.

“Coba Ibu ceritakan keperluan Ibu, mungkin ada yang bisa saya bantu.” Katanya lagi dengan nada khas Jakarta.

“Begini Mbak, Saya kan dapat undangan workshop, tempatnya di Hotel Jayakarta.” Jawabku sambil menunjukkan surat undangan.

“Ooo…begitu Ibu.Kalau begitu mari ke resepsionis untuk memesan kamarnya Ibu.” Katanya sambil melangkah ke arah petugas resepsionis.

“Bu, ini ada tamu dari peserta workshop direktorat. Silahkan dilayani.” Kata Mbak kepada petugas resepsionis.

Petugas resepsionis pun menyapaku dengan ramah. “Ibu namanya siapa, dan dari mana?”

“Saya Bu Fatimah, dari Kudus Mbak.” jawabku.

“Begini ya Bu. Tamu dari peserta workshop direktorat, baru bisa check in nya jam 13.00. Sekarang saya beri nomor kamar yang nanti Ibu tempati. Nanti sekitarr jam 13.00 Ibu bisa mengambil kuncinya ke sini.” Jawabnya dengan ramah.

“Iya Mbak. Saya kamar nomor berapa Mbak?” tanyaku.

“Ibu nanti menempati kamar 212.” Jawabnya.

“Wah kayak kapaknya wiro sableng nomor kamarku, semoga aku tidak sableng sperti nomornya”gumamku dalam hati.

“O iya Ibu. Sekarang baru jam 11.00, Ibu bisa menunggu untuk bisa check in di ruang tunggu. Terima kasih.” Kata Mbak resepsionis sambil menunjukkan ruang tunggu yang tadi aku tempati ketika pertama aku datang ke hotel itu.

“Makasih Mbak.” Jawabku sambil melangkah kea rah ruang tunggu.

“Ternyata rempong juga ya mau check in.” kataku dalam hati.

Setelah sampai di ruang tunggu, aku kembali duduk dan menyadarkan tubuhku yang terasa penat. “Ya idep-idep di enggo pengalaman check in di Hotel..” kataku pada diriku sendiri.

Sambil menunggu kukatubkan kelopak mataku dan kucoba untuk sejenak tidur di ruang tunggu.

Cikfat. 06.10.2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Ada cerita apa lagi setelah ini? Kita tunggu saja dalangnya

06 Oct
Balas

Makin asyik bu ceritanya, tp wiro sablengnya jangan diajak, nanti buat ulah dia, hehehe. Barakallah

06 Oct
Balas

Cerita yang sangat natural dan asyik untuk dibaca...lanjuuut....

06 Oct
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali